Minggu, 21 Desember 2014

Pengetahuan Biologi



PENYAKIT JANTUNG KORONER
            Penyakit jantung koroner masih menempati peringkat pertama penyebab kematian di Indonesia. Penyakit jantung koroner adalah penyempitan/penyumbatan pembuluh arteri koroner yang disebabkan oleh penumpukan dari zat-zat lemak (kolesterol) dibawah lapisan endothelium dari dinding pembuluh nadi. Tersumbatnya arteri koroner akan mengurangi aliran darah yang menyuplai oksigen ke otot-otot jantung sehingga mengganggu kerja jantung sebagai pemompa darah. Ciri-ciri penderita jantung koroner adalah nyeri pada dada kiri, sesak napas, irama jantung tak beraturan, keringat dingin, mual dan muntah.
            Seseorang yang mengalami kegemukan (memiliki lingkar pinggang lebih dari 80cm) dan menderita hipertensi berisiko lebih besar terkena penyakit ini. Oleh karena itu, rajinlah melakukan kegiatan olahraga seperti berjalan kaki, jalan cepat, atau jogging untuk menguatkn kerja jantung dan melancarkan peredaran darah ke seluruh tubuh. Hindari merokok dan stress. Hindari makanan yang mengandung lemak atau yang mengandung kolesterol tinggi. Kurangi menyantap makanan yang digoreng. Sebaliknya makanlah makanan yang di olah dengan cara di rebus, di kukus, atau di panggang. Hindari juga makanan dengan kandungan gula tinggi. Konsumsilah makanan yang mengandung antioksidan dan omega-3 seperti ikan, buah-buahan, dan sayuran.

Pengetahuan Biologi



REMATIK
            Rematik adalah penyakit yang menyerang persendian atau jaringan penunjang disekitar sendi. Ada banyak mitos mengenai penyakit rematik, di antaranya rematik disebabkan sering mandi saat sore atau malam, rematik disebabkan makan kangkung dan bayam, dan rematik hanya diderita lansia. Penelitian kedokteran tidak menemukan fakta ilmiah apapun berkaitan dengan hal-hal tersebut.
            Penyebab rematik adalah masalah kekebalan tubuh yang berbalaik menyerang jaringan persendian. Hal ini mengakibatkan tulang rawan pelindung di sekitar sendi menipis sehingga pada saat digerakkan, tulang-tulang di persendiaan bersinggungan dan memicu rasa nyeri. Gejala rematik antara lain nyeri pada persendian, nyeri saat cuaca berubah dari panas ke dingin, sendi kaku di pagi hari, peradangan dan hilangnya fleksibilitas sendi, serta sendi terlihat bengkak, kemerahan, dan terasa panas. Gerak pun menjadi terbatas.
            Rematik dapat menyerang hamper semua sendi, tetapi yang paling sering diserang adalah sendi pergelangan tangan, buku-buku jari, lutut, dan engkel kaki. Perempuan juga lebih mungkin terkena penyakit rematikdibandingkan laki-laki. Dengan perawatanyang tepat, banyak penderita rematik yang dapat menjalani kehidupan yang normal dan aktif.

Pengetahuan Biologi



SEL PUNCA
            Sel punca atau stem cell ialah sel yang memiliki kemampuan untuk berdiferensiasi dan berspesialisasi menjadi sel lain. Dalam kehidupan kita, sel punca berperan dalam regenerasi organ dan jaringan yang rusak atau hilang setiap hari. Sel ini memiliki ciri mampu membelah diri secara terus menerus menjadi sel yang diinginkan, seperti sel jantung, sel syaraf, sel otot, dan sebagainya. Pemanfaatan sel punca amatlah luas. Misalnya, sel punca yang disuntikkan ke tubh pasien stroke yang lumpuh dapat menumbuhkan jaringan otak atau saraf yang baru sehingga pasien dapat berjalan lagi. Dalam penelitian, penggunaan sel punca telah terbukti berhasil mengobati penyakit jantung, Diabetes mellitus, Alzheimer, Parkinson, bahkan mungkin AIDS dan kanker.
            Ada dua macam sel punca, yaitu sel punca embrionik dan sel punca dewasa. Sel punca embrionik adalah sel punca yang diisolasi dari embrio pada tahap blastolisis, yaitu tahap lima hari setelah pembuahan. Sementara itu, sel punca dewasa adalah sel punca yang diisolasi dari jaringan dewasa seperti sumsum tulang atau darah tali pusar. Penggunaan sel punca embrionik memicu perdebatan, sebab pengambilan sel punca tersebut akan membunuh embrio yang bersangkutan. Sedangkan penggunaan sel punca dewasa, walaupun tidak menuai kontroversi, memiliki kemampuan diferensiasi yang terbatas.

Pengetahuan Biologi



MENGEMBANGBIAKKAN ANGGREK LEWAT KULTUR JARINGAN
            Mereka yang bergelut dalam bisnis anggrek pasti tahu betapa sulitnya mengembangbiakkan anggrek. Anggrek menghasilkan buah yang mengandung ribuan biji yang berukuran mikroskopis. Biji-biji tersebut hanya terdiri atas embrio, tanpa membawa cadangan makanan (endospem). Akibatnya, biji anggrek tidak akan dapat hidup, kecuali jika biji tersebut bersimbiosis dengan sejenis mikroorganisme tertentu. Hal tersebut tentu sangat menyulitkan para pembiaknya. Namun dengan teknik kultur jaringan, hal tersebut dapat diatasi.
            Pertama-tama buah yang belum membuka di iris di dalam kondisi steril. Biji-biji yang ada di dalamnya kemudian ditumbuhkan kedalam media kultur jaringan yang mengandung hara dan nutrisi. Beberapa media yang digunakan untuk memperbanyak anggrek adalah Knudson C, Wimber, Fonnesbech, atau media MS. Dalam waktu beberapa bulan, biji tersebut akan tumbuh menjadi ribuan tanaman anggrek kecil yang di sebut planlet. Teknik ini dinamakan teknik embryo rescue atau penyelamatan embrio dan telah lama digunakan untuk menyelematkan embrio dari biji yang sukar berkecambah, misalnya jeruk.   

Pengetahuan Biologi



PERNAPASAN PADA IKAN
Ikan lele yang hidup pada kondisi  oksigen rendah (berlumpur) memiliki organ tambahan yang disebut arboresent organ. Organ tersebut berupa struktur dengan kenampakan mirip  bunga karang berwarna merah untuk membantu mengikat oksigen. Selain pada lele, organ tambhan dapat dijumpai pada ikan gurame yang disebut sebagai labirin. Labirin terbentuk seperti bunga mawar. Strukturnya yang berlipat-lipat berfungsi memperluas permukaan respirasi. Pada belut terdapat struktur anatomi insang yang khas, yaitu beberapa filament insang yang menyatu sehingga terlihat belut hanya mempunyai satu insang.
Ikan cupang, berbeda dengan jenis ikan lainnya, tidak memiliki insang yang berkembang dengan baik. Golongan ikan cupang dapat  bernapas dengan mengambil udara langsung dari udara atmosfer melalui labirin yang berfungsi sebagai paru-paru. Tak heran jika kemudian, kita menjumpai habitat alami cupang ini pada perairan-perairan dangkal seperti genangan air, areal persawahan, bahkan mampu hidup pada genangan air berlumpur karena tidak bergantung pada kadar oksigen terlarut dalam air.